Senin, 05 September 2011 - 08:17:00 WIBCerita dibalik angka NOL
Diposting oleh : Hendra Santoso
Kategori: Pendidikan - Dibaca: 355 kali
Ketika tahun 969 Al Khawarizmi menemukan nilai nol (0), ia pasti tak akan menyangka seseorang akan menggunakan nilai itu untuk membuat kami bersedih. Nol berasal dari kata 'nulla' dan 'nihil' dari sistem penomoran bangsa Roman yang artinya 'tidak berarti' (nothing), 'tidak bernilai', 'kosong'.
"Belum pernah sebelumnya saya mendapat nilai sempurna, bulat sempurna," kata seorang mahasiswa yang mendapat nilai nol.
"Dua puluhan tahun sekolah baru pertama saya dapat nilai nol," keluh Candra, kawannya.
Kami mendapat nilai nol, karena 'didakwa' atas sesuatu yang tidak kami lakukan, mencontek. Bah. Kami cuma mengerjakan sendiri-sendiri di rumah dengan bantuan Google, dan berhubung kami terhubung pada jaringan nirkabel yang sama bernamakan internet, tak terlalu mengherankan kalau hasil kerjaan PR kami mirip. Tapi sungguh, kami bahkan tak pernah bertemu untuk membahas soal tersebut. Meski demikian, kami juga tak mempunyai bukti untuk menyatakan yang sebaliknya.
"Berapa banyak kombinasi jawaban untuk sebuah soal Algoritma, ha?" tanya saya. "Jawabannya pasti tidak tak terhingga." "Tak mungkin ada lebih dari 10 macam jawaban untuk menyatakan cara kerja sorting Binary Search, bukan semata-mata karena cara tersebut sudah baku, namun juga karena terlalu sederhana untuk dibuat kombinasinya."
Pemrograman itu unik. Selalu itu yang ditekankan pada kami. Masing-masing orang pasti memiliki cara untuk menyelesaikan sebuah program. Tapi, sebuah algoritma pembentuk method-nya, pasti memiliki sisi mirip. Walaupun tidak sama persis.
Tak berlama-lama kami larut dalam kesedihan gara-gara nilai nol itu. Kehidupan kampus terus berjalan, dan seiring waktu kami mulai lupa. Bahkan beberapa orang seperti Sigit, the master of Java, malah terpicu untuk menunjukkan yang terbaik. Hikmahnya adalah, pertama kami punya pengalaman dapat nilai nol. Kedua, mungkin memang begitu cara beliau, untuk memicu bara dalam diri kami.
Sesungguhnya, nilai nol sangat berarti, kawan.
Mulanya, Al Khawarizmi mengemukakan bahwa 'sesuatu yang melingkar' harus digunakan sebagai pengganti angka 'sepuluh', agar sebuah deret angka tertentu bisa terus berulang (rekursif). 'Lingkaran kecil' dalam bahasa Arab disebut sifr (kosong). Orang Inggris mengubah penyebutan sifr menjadi zero, sebagaimana mereka mengubah nama Al Khawarizmi sendiri menjadi Algoritma. Ide itulah yang kemudian melahirkan angka nol (0).
Nol adalah bilangan genap, karena bisa dibagi dua. Nol juga merupakan bilangan asli. Kadang nol juga bilangan tak jelas, karena nol bukan positif, ataupun negatif, bukan prima atau komposit. Tapi jangan coba-coba membagi sesuatu dengan nol, kawan, karena ia bisa 'meledak' menjadi tak hingga (~) atau tak terdefinisi. Matematikawan Italia Fibonacci, sang pembuat deret Fibonacci, membuat nol sebagai dasar membuat sistem desimal.
Berikut melengkapi fakta-fakta menarik dari nol:
- 0! (baca: nol faktorial) bernilai 1. kenapa?
- Dalam teori Himpunan, 0 adalah jumlah dari bilangan kosong { }, namun jumlah dari sebuah himpunan kosong {{ }} = 1.
- Dalam teori Proporsi Logis, 0 adalah nilai kebenaran dari 'salah'. Benar = 1, Salah = 0.
- Dalam teori rekursi, 0 disebut sebagai titik netral untuk mengukur level algoritma yg tak terpecahkan dari suatu himpunan.
- Kelvin, sang penemu derajad suhu, menentukan bahwa 0 adalah derajad suhu yang paling dingin. Sedangkan Celcius menentukan bahwa 0 adalah titik beku air.
- Dalam bahasa pemrograman, nah ini yang paling penting, 0 sangat berguna, bukan hanya untuk rekursi, tapi juga banyak hal:
- 0 tidak berarti kosong, karena kosong biasa dilambangkan dengan 'null'.
- Perhitungan terhadap array juga selalu dimulai dari nol.
- Dalam algoritma sorting dan searching dengan menggunakan bucket sort dan turunannya (single link list, double link list, radix), semua bucket harus diisi dengan nol (0) dulu, baru dapat diisi dengan bilangan lain.

0 Komentar :
Isi Komentar :





Pengunjung hari ini
Total pengunjung
Pengunjung Online 
